Jika lo mendengar seseorang berbicara dengan menyelipkan kata "which is" atau "literally" di tengah kalimat Bahasa Indonesia, kemungkinan besar pikiran lo akan langsung tertuju pada satu wilayah: Jakarta Selatan. Fenomena kebahasaan ini begitu melekat pada identitas anak Jaksel hingga sering kali menjadi bahan candaan atau meme di media sosial. Banyak yang menganggap penggunaan campuran bahasa ini hanyalah upaya untuk terlihat lebih keren atau intelek. Namun, jika kita melihat lebih dalam, ada alasan sosiolinguistik yang menarik dan logis di balik refleks kebahasaan ini.
![]() |
| Gambar dibuat menggunakan AI. |
Pertama-tama, kita harus mengakui bahwa Jakarta Selatan adalah wilayah dengan eksposur media global yang sangat tinggi. Banyak penduduknya, terutama generasi muda, tumbuh besar dengan mengonsumsi konten-konten berbahasa Inggris tanpa subtitle. Mulai dari serial Netflix, video YouTube dari kreator internasional, hingga lagu-lagu populer. Ketika otak kita terus-menerus memproses informasi dalam satu bahasa, bahasa tersebut akan mulai 'mengambil alih' jalur berpikir kita. Which is, saat kita ingin menyampaikan sebuah ide, kata yang paling cepat muncul di benak sering kali adalah kata yang paling sering kita dengar dalam konteks tersebut, yang dalam hal ini adalah kata dari Bahasa Inggris.
Selain faktor media, lingkungan kerja juga memiliki peran yang sangat besar. Banyak perusahaan multinasional dan startup teknologi yang beroperasi di wilayah Jakarta Selatan menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar utama dalam komunikasi internal maupun eksternal. Email kerja, rapat, hingga presentasi dilakukan dalam Bahasa Inggris. Ketika lo menghabiskan delapan hingga sepuluh jam sehari berkomunikasi dalam lingkungan seperti ini, refleks lo untuk menggunakan kata-kata Bahasa Inggris akan sangat kuat, bahkan ketika lo sedang berbicara dalam konteks santai dengan teman-teman di luar jam kerja. Penggunaan kata seperti "literally" menjadi penekanan yang sangat alami untuk mengekspresikan intensitas sebuah perasaan atau keadaan.
Lebih jauh lagi, ada faktor nuansa makna yang berbeda. Beberapa kata dalam Bahasa Inggris kadang tidak memiliki padanan yang tepat dan ringkas dalam Bahasa Indonesia yang bisa menyampaikan tingkat intensitas yang sama. Kata "bener-bener" atau "sungguh-sungguh" kadang terasa kurang power dibandingkan lo bilang "literally". Begitu juga dengan penggunaan "which is" yang sering digunakan untuk menghubungkan dua ide yang memiliki kaitan logis yang sangat spesifik, yang kadang susah disampaikan dengan cepat menggunakan kata sambung Bahasa Indonesia biasa. Ini adalah soal efisiensi dalam menyampaikan perasaan dan ide di tengah dinamika komunikasi kota besar yang serba cepat.
Gue sering nemu pendapat yang bilang kalau bahasa campuran ini merusak Bahasa Indonesia. Gue pribadi melihatnya sebagai bagian dari evolusi linguistik yang wajar terjadi di kota-kota besar yang multikultural. Bahasa itu dinamis, terus berubah seiring dengan perubahan cara kita hidup, bekerja, dan berinteraksi. Bahasa gaul anak Jaksel ini bukanlah sebuah penolakan terhadap Bahasa Indonesia, melainkan sebuah bentuk adaptasi komunitas yang hidup di persimpangan dua budaya yang berbeda. Ini adalah identitas komunikasi yang unik dari sebuah generasi yang sangat terhubung dengan dunia global.
Jadi, lain kali kalau lo denger ada anak Jaksel pakai which is atau literally, jangan langsung judge mereka cuma mau pamer ya. Pahami kalau itu adalah bentuk refleks alami dari lingkungan dan cara berpikir mereka yang udah terbentuk sedemikian rupa. Alih-alih merendahkan, mari kita lihat ini sebagai bagian dari keberagaman cara kita berkomunikasi di Jakarta Selatan.
Setiap wilayah punya gaya bahasanya masing-masing yang mencerminkan karakter penduduknya. Di Jaksel, kebetulan refleksnya adalah bahasa campuran yang dinamis. Dan itu bukan sesuatu yang salah, melainkan sebuah bentuk ekspresi diri yang jujur di tengah pusaran modernisasi kota besar yang tiada hentinya.

Comments
Post a Comment