Skip to main content

Kenangan Carrefour Lebak Bulus: Cerita di Balik Gedung Kosong yang Pernah Jadi Pusat Semesta Warga Jaksel

Kalau lo sering lewat area Lebak Bulus akhir-akhir ini, pasti lo bakal melihat pemandangan yang kontras banget. Di satu sisi, ada kemegahan Stasiun MRT Lebak Bulus Grab dengan kereta biru yang lalu lalang tiap beberapa menit. Tapi tepat di sebelahnya, berdiri sebuah gedung besar yang tampak sunyi dan kosong. Buat orang yang baru pindah ke Jakarta, mungkin itu cuma gedung tua yang menunggu dihancurkan. Tapi buat kita yang sudah lama tinggal di Jakarta Selatan, Ciputat, atau Cinere, gedung itu adalah saksi bisu ribuan memori hari Minggu yang indah.


Gedung kosong bekas Carrefour Lebak Bulus yang bersebelahan dengan pintu masuk Stasiun MRT Jakarta.
Gambar dibuat menggunakan AI.

Gue masih ingat betul bagaimana rasanya momen belanja bulanan di Carrefour Lebak Bulus dulu. Tempat ini bukan sekadar supermarket atau toko ritel biasa. Bagi banyak keluarga, Carrefour Lebak Bulus adalah pusat hiburan, tempat healing paling terjangkau, dan titik temu yang menyatukan banyak orang dari berbagai kalangan. Sebelum era mal mewah menjamur di setiap sudut Jakarta, gedung ini adalah magnet utama yang membuat kemacetan di persimpangan Lebak Bulus terasa sangat masuk akal.


Ritual Hari Minggu yang Tidak Tergantikan

Mari kita bahas ritual paling ikonik di sana: Hari Minggu. Dulu, rasanya belum sah jadi warga Jaksel kalau belum merasakan perjuangan mencari parkir di Carrefour Lebak Bulus saat hari libur. Antrean mobil yang mengular sampai ke jalan raya sudah jadi pemandangan biasa. Meskipun panas dan bikin emosi, entah kenapa kita tetap sabar menunggu demi bisa masuk ke dalam sana.

Begitu pintu otomatis terbuka, aroma pertama yang menyambut lo adalah wangi roti panas dari area bakery yang berada tepat di dekat pintu masuk. Bau itu sangat khas dan selalu berhasil bikin perut keroncongan seketika. Bau gandum, mentega, dan cokelat yang baru dipanggang seolah menjadi sinyal bahwa petualangan belanja bulanan sudah resmi dimulai.

Buat gue, dan mungkin juga buat lo, area food court di sana adalah tempat legendaris lainnya. Di sana bukan soal kemewahan makanannya, tapi soal suasananya. Duduk di kursi plastik bareng keluarga sambil menikmati bakso atau camilan setelah capek keliling belanja itu rasanya nikmat sekali. Tidak ada yang peduli dengan hiruk pikuk di sekitar, karena semua orang sedang sibuk dengan kebahagiaan kecilnya masing-masing.


Surga Kecil di Lorong Mainan

Kalau lo tumbuh besar di era 2000-an, lo pasti pernah merasakan sensasi lari-larian di lorong mainan Carrefour Lebak Bulus. Area ini adalah surga dunia buat anak-anak. Gue ingat betul bagaimana rasanya duduk manis di dalam troli besi yang dingin, sementara bokap atau nyokap sibuk memilih detergen atau minyak goreng yang lagi promo besar-besaran.

Troli itu bukan cuma tempat naruh barang belanjaan, tapi jadi kendaraan imajinasi buat kita. Kadang kita merasa seperti sedang naik mobil balap saat nyokap mendorongnya agak kencang di lorong yang kosong. Dan puncaknya adalah ketika kita berhasil merayu orang tua buat mampir ke lorong mainan. Meskipun akhirnya cuma boleh beli satu mainan kecil atau bahkan cuma boleh lihat-lihat saja, perasaan senang itu tetap membekas sampai sekarang.

Kenangan belanja di sana juga erat kaitannya dengan kartu belanja atau katalog promo yang biasanya dibagikan di depan pintu masuk. Kita bakal sibuk menandai barang apa saja yang lagi diskon. Ada kepuasan tersendiri bagi orang tua kita saat melihat total belanjaan berkurang drastis karena potongan harga yang ditawarkan. Itu adalah bentuk kebahagiaan sederhana yang mungkin sekarang sudah tergantikan dengan aplikasi belanja online.


Perubahan Wajah Lebak Bulus dan Hadirnya MRT

Waktu terus berjalan, dan Jakarta pun harus terus berbenah. Pembangunan infrastruktur transportasi massal seperti MRT Jakarta membawa perubahan besar bagi wajah Lebak Bulus. Sayangnya, perubahan ini juga menandai akhir dari era kejayaan Carrefour di lokasi tersebut. Proses pembangunan depo dan stasiun MRT mengharuskan banyak hal di sekitarnya menyesuaikan diri.

Gue ingat momen ketika kabar Carrefour Lebak Bulus bakal tutup mulai beredar. Rasanya ada sesuatu yang hilang dari rutinitas mingguan kita. Perlahan tapi pasti, rak-rak yang dulu penuh dengan barang mulai dikosongkan. Keramaian yang biasanya meledak tiap akhir bulan mulai meredup. Dan akhirnya, gedung itu resmi berhenti beroperasi, meninggalkan gedung besar yang kini kita lihat setiap kali melewati perempatan tersebut.

Yang menarik, meskipun operasional supermarketnya sudah tidak ada, area parkirnya masih punya peran penting. Sekarang, lahan parkir yang dulu dipenuhi mobil keluarga yang mau belanja, sudah berubah fungsi menjadi area parkir untuk para pengguna MRT. Banyak orang yang tinggal di daerah pinggiran memarkir kendaraannya di sana sebelum melanjutkan perjalanan dengan kereta menuju pusat kota. Fungsi gedungnya boleh mati, tapi lahannya tetap menjadi bagian penting dari pergerakan orang-orang di Jakarta.


Gedung Kosong yang Menyimpan Banyak Cerita

Sekarang, setiap kali gue lewat di depan gedung itu, rasanya hampa. Gedung besar yang dulu terang benderang dan penuh musik kini tampak kusam dan sunyi. Papan namanya yang dulu berwarna biru dan merah mencolok pun sudah memudar atau dilepas. Kontras banget sama keramaian yang ada di Stasiun MRT di sebelahnya.

Tapi buat gue, gedung itu tetap punya nilai historis yang tinggi. Setiap kali gue melihat strukturnya, gue teringat momen-momen receh yang dulu terasa biasa saja tapi sekarang terasa sangat berharga. Misalnya, momen antre panjang di kasir saat malam Senin karena semua orang baru ingat belum beli kebutuhan kantor atau sekolah. Atau momen ketemu teman lama secara tidak sengaja di lorong makanan beku.

Carrefour Lebak Bulus adalah bukti bahwa sebuah tempat belanja bisa menjadi lebih dari sekadar transaksi ekonomi. Ia bisa menjadi ruang sosial, tempat tumbuh kembang memori, dan penanda waktu bagi sebuah generasi. Meskipun sekarang ia hanya menjadi gedung kosong yang menunggu kepastian masa depannya, ceritanya akan tetap hidup di kepala kita.


Terima Kasih untuk Memorinya

Kita mungkin nggak bisa lagi belanja di sana, tapi memori pas keliling di dalam sana bareng orang-orang tersayang nggak akan pernah bisa terganti oleh mal mana pun. Sekarang kita punya banyak pilihan supermarket yang lebih modern, lebih dingin, dan lebih canggih. Tapi suasana hangat dan "chaos" yang menyenangkan di Carrefour Lebak Bulus punya tempat tersendiri di hati warga Jakarta Selatan.


Area parkir mobil di depan bangunan lama Carrefour Lebak Bulus yang kini digunakan oleh pengguna MRT.
Gambar dibuat menggunakan AI.

Gedung itu mungkin segera dihancurkan atau dialihfungsikan secara total di masa depan. Tapi bagi gue, lo, dan kita semua yang pernah menjadi bagian dari keriuhannya, tempat itu akan selalu dikenang sebagai pusat semesta di hari Minggu. Terima kasih, Carrefour Lebak Bulus, sudah menemani masa kecil dan masa remaja kita dengan segala keseruannya.

Comments

Popular posts from this blog

Nostalgia Kemang Era 2000-an: Mengapa Kawasan Ini Menjadi Pusat Semesta Anak Jaksel pada Masanya

Kalau kita bicara soal Jakarta Selatan hari ini, pikiran lo pasti langsung tertuju pada deretan kafe mewah di Senopati , gedung pencakar langit di SCBD , atau keramaian di Pantai Indah Kapuk . Tapi, buat lo yang sempat melewati masa muda di tahun 2000-an, lo pasti tahu kalau ada satu wilayah yang punya aura tak tertandingi, yaitu Kemang . Sebelum kawasan lain di Jakarta mulai bersolek dengan konsep modern yang serba seragam, Kemang sudah lebih dulu berdiri sebagai pusat semesta bagi anak muda Jakarta Selatan. Gambar dibuat menggunakan AI. Kemang di era itu bukan sekadar titik koordinat di peta. Ia adalah sebuah identitas, sebuah ruang di mana berbagai macam subkultur melebur jadi satu. Mulai dari anak indie yang hobi koleksi vinyl, sampai gerombolan anak pesta yang nggak pernah absen tiap akhir pekan, semua tumpah ruah di sini. Gue akan mengajak lo untuk kembali memutar waktu, melihat alasan mengapa Kemang di masa itu terasa jauh lebih ikonik dan penuh kenangan dibandingkan tempat hit...

Jaksel vs Jakpus: Memahami Perbedaan Karakter Dua Jantung Jakarta

Jakarta bukan sekadar satu kota besar yang seragam. Setiap sudutnya punya "nyawa" yang berbeda, terutama jika kita membandingkan dua wilayah paling populer yaitu Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat . Bagi lo yang sudah lama tinggal di ibu kota, lo pasti ngerasa kalau berpindah dari area Senopati ke arah Sudirman-Thamrin itu kayak pindah ke dunia yang berbeda. Rivalitas atau perbandingan antara Jaksel dan Jakpus ini selalu menarik buat dibahas karena menyangkut gaya hidup, ambisi, dan cara kita menikmati kota. Gambar dibuat menggunakan AI. Mari kita bedah Jakarta Selatan terlebih dahulu. Jaksel sering kali dianggap sebagai kiblat dari industri kreatif dan gaya hidup anak muda. Karakter wilayah ini sangat dipengaruhi oleh pemukiman elit yang rindang, seperti di area Kebayoran Baru atau Pondok Indah . Hal ini menciptakan suasana yang lebih warm dan organic . Di Jaksel, lo bakal nemu banyak banget cafe hidden gem yang nyempil di gang-gang kecil, galeri seni yang estetik, hing...

Menjelajahi Lorong Waktu di Basement Blok M Square

Jakarta Selatan selalu punya sisi yang kontras. Di satu sisi, kita melihat gedung pencakar langit dan pusat perbelanjaan ultra-modern, namun di sisi lain, ada ruang-ruang yang seolah berhenti di masa lalu. Salah satu tempat yang paling ikonik untuk merasakan sensasi nostalgia ini adalah area basement Blok M Square . Bagi para pecinta rilisan fisik dan barang-barang antik, tempat ini bukan sekadar pusat perbelanjaan, melainkan tempat ibadah bagi budaya pop masa lalu. Gambar dibuat menggunakan AI. Begitu lo menuruni eskalator dan masuk ke area bawah tanah ini, aroma khas kertas tua dan plastik kaset akan langsung menyapa indra penciuman lo. Suasananya sangat berbeda dengan lantai-lantai di atasnya yang bising dengan aktivitas mall pada umumnya. Di sini, waktu seolah bergerak lebih lambat. Deretan toko kecil yang dipenuhi tumpukan piringan hitam ( vinyl ), kaset pita , hingga CD dari berbagai genre musik berjajar rapi menunggu untuk ditemukan oleh para "pemburu harta karun". A...