Jakarta Selatan selalu punya sisi yang kontras. Di satu sisi, kita melihat gedung pencakar langit dan pusat perbelanjaan ultra-modern, namun di sisi lain, ada ruang-ruang yang seolah berhenti di masa lalu. Salah satu tempat yang paling ikonik untuk merasakan sensasi nostalgia ini adalah area basement Blok M Square. Bagi para pecinta rilisan fisik dan barang-barang antik, tempat ini bukan sekadar pusat perbelanjaan, melainkan tempat ibadah bagi budaya pop masa lalu.
![]() |
| Gambar dibuat menggunakan AI. |
Begitu lo menuruni eskalator dan masuk ke area bawah tanah ini, aroma khas kertas tua dan plastik kaset akan langsung menyapa indra penciuman lo. Suasananya sangat berbeda dengan lantai-lantai di atasnya yang bising dengan aktivitas mall pada umumnya. Di sini, waktu seolah bergerak lebih lambat. Deretan toko kecil yang dipenuhi tumpukan piringan hitam (vinyl), kaset pita, hingga CD dari berbagai genre musik berjajar rapi menunggu untuk ditemukan oleh para "pemburu harta karun".
Aktivitas utama yang dilakukan orang di sini adalah digging. Istilah ini merujuk pada kegiatan memilah-milah tumpukan piringan hitam satu per satu di dalam rak kayu yang sempit. Ada sensasi kepuasan tersendiri saat jari-jari lo menyentuh sampul album yang sudah sedikit kusam namun isinya adalah mahakarya musik yang lo cari-cari selama bertahun-tahun. Mulai dari rock klasik, jazz, pop Indonesia era 70-an, hingga musik indie masa kini, semuanya ada di sini jika lo punya cukup kesabaran untuk mencarinya.
Selain musik, basement Blok M Square juga dikenal sebagai pusat buku bekas dan majalah jadul. Lo bisa menemukan majalah mode dari era 90-an yang desainnya kini kembali menjadi tren, atau buku-buku sastra klasik yang sudah tidak dicetak lagi. Banyak kolektor yang rela menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mencari satu edisi majalah langka guna melengkapi koleksi mereka. Keberadaan barang-barang ini memberikan kita perspektif tentang bagaimana tren dan gaya hidup masyarakat Jakarta berputar dari masa ke masa.
Interaksi antara penjual dan pembeli di sini juga sangat unik. Para pedagang di basement Blok M rata-rata adalah penikmat yang sudah sangat paham dengan barang dagangannya. Lo gak cuma sekadar melakukan transaksi jual-beli, tapi lo bisa mendapatkan edukasi singkat tentang sejarah sebuah album atau mengapa sebuah kaset pita tertentu memiliki nilai tinggi. Percakapan santai seperti ini menciptakan rasa komunitas yang kuat di antara sesama pecinta barang vintage. Di tengah dunia yang serba digital, interaksi fisik dan kepemilikan barang fisik memberikan kepuasan emosional yang tidak bisa digantikan oleh layanan streaming mana pun.
Harganya pun sangat beragam. Lo bisa menemukan kaset pita seharga segelas kopi, namun lo juga harus siap merogoh kocek jutaan rupiah untuk piringan hitam edisi terbatas atau rilisan pertama band legendaris. Namun, bagi para kolektor, harga sering kali menjadi nomor dua setelah nilai historis dan keaslian barang tersebut. Membeli barang di sini adalah soal menghargai proses dan sejarah di baliknya.
Blok M Square secara keseluruhan memang telah menjadi episentrum kebudayaan di Jakarta Selatan. Keberadaan area vintage di bawah tanah ini melengkapi ekosistem kreatif yang ada di sekitarnya, seperti area Melawai dan Taman Literasi. Ini adalah tempat yang paling pas buat lo yang ingin melarikan diri sejenak dari hiruk pikuk kehidupan digital dan ingin menyentuh langsung sejarah dalam bentuk fisik.
Jadi, kalau lo lagi ada di daerah Jakarta Selatan dan punya waktu luang, cobalah untuk mampir ke basement Blok M Square. Bawa uang tunai secukupnya dan siapkan kesabaran lo. Siapa tahu, di antara tumpukan barang lama itu, ada satu kepingan sejarah yang memang ditakdirkan untuk lo bawa pulang. Digging bukan cuma soal mencari barang, tapi soal menemukan kembali koneksi lo dengan masa lalu yang indah.

Comments
Post a Comment