Kalau lo sempat tumbuh besar di Jakarta pada awal tahun 2000-an, nama Barito pasti punya ruang tersendiri di memori lo. Kawasan yang terletak di sepanjang Jalan Kramat Pela ini sekarang mungkin lebih dikenal sebagai spot nongkrong anak muda dengan cafe estetik atau Taman Literasi yang modern. Namun, jauh sebelum aroma kopi susu dan pastry menguasai udara, Barito adalah sebuah ekosistem yang jauh lebih organik. Barito adalah surga bagi para pecinta hewan, tempat di mana suara burung perkutut dan bau khas pakan ikan menjadi latar belakang dari setiap langkah kaki kita.
![]() |
| Gambar dibuat menggunakan AI. |
Bagi anak Jakarta Selatan era itu, pergi ke Barito bukan sekadar urusan belanja. Ini adalah ritual akhir pekan yang paling dinanti. Mari kita bedah kembali apa saja yang membuat Barito tahun 2000-an begitu membekas di hati kita semua.
Aroma Tanah dan Simfoni Burung Perkutut
Masuk ke kawasan Barito pada tahun 2000-an adalah sebuah pengalaman sensorik yang lengkap. Begitu lo turun dari mobil atau motor, hal pertama yang menyapa lo bukanlah AC yang sejuk, melainkan udara terbuka yang penuh dengan karakter. Ada campuran aroma tanah basah, lumut dari akuarium, hingga bau pakan burung yang sangat khas. Bagi sebagian orang, bau ini mungkin terasa asing, namun bagi pengunjung setia, ini adalah aroma kenyamanan.
Di sisi kiri dan kanan jalan, deretan kandang burung tersusun rapi hingga ke langit-langit kios. Lo akan mendengar simfoni alami dari berbagai jenis burung, mulai dari perkutut yang suaranya berat hingga burung-burung kecil yang berkicau nyaring. Para pemilik kios biasanya akan terlihat sibuk membersihkan kandang atau sekadar menyemprotkan air ke burung kesayangan mereka. Suasananya sangat hidup dan memberikan kesan bahwa Jakarta masih memiliki sisi tradisional yang kuat di tengah modernitas yang mulai merayap.
Ritual Memilih Ikan Cupang dan Maskoki
Bagi gue dan mungkin bagi lo juga, daya tarik utama Barito ada pada deretan akuariumnya. Dulu, ikan cupang belum sepopuler atau semahal sekarang dalam konteks hobi high-end, namun di Barito, cupang adalah raja bagi anak-anak sekolah. Kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk melihat stoples kaca kecil yang berisi ikan-ikan dengan warna menyala. Memilih ikan cupang yang paling galak atau memiliki ekor paling lebar adalah sebuah prestasi tersendiri.
Selain cupang, ikan maskoki dengan perut buncitnya juga menjadi primadona. Pemandangan akuarium besar yang berisi puluhan ikan maskoki berwarna oranye terang selalu berhasil membuat mata anak kecil terpaku. Ada kepuasan tersendiri saat kita menunjuk satu ikan, lalu penjualnya dengan cekatan menangkap ikan tersebut menggunakan serokan kecil untuk dimasukkan ke dalam plastik bening. Plastik yang digelembungkan dengan oksigen itu kemudian kita bawa pulang layaknya harta karun yang sangat berharga.
Kucing dalam Kandang yang Menjadi Rebutan Pandangan
Barito tahun 2000-an juga menjadi jendela bagi kita untuk melihat kucing-kucing ras yang cantik. Pada masa itu, memelihara kucing persia atau anggora belum selazim sekarang. Di beberapa sudut kios, lo bisa melihat kucing-kucing dengan bulu lebat sedang tertidur pulas di dalam kandang besi. Harganya yang dulu terasa sangat mahal membuat banyak dari kita hanya bisa menempelkan hidung ke jeruji kandang sambil mengelus bulu mereka tipis-tipis.
Tak jarang, kita juga melihat kelinci-kelinci kecil yang menggemaskan atau hamtaro yang sedang asyik berlari di atas roda putarnya. Semua hewan ini dipajang sedemikian rupa sehingga membuat siapapun yang lewat tergoda untuk berhenti. Barito adalah kebun binatang mini di tengah kota yang bisa diakses secara gratis oleh siapa saja yang ingin sekadar cuci mata.
Kenangan Bareng Bokap di Hari Minggu
Salah satu alasan kenapa Barito terasa begitu emosional adalah karena tempat ini sering menjadi lokasi bonding antara ayah dan anak. Banyak dari kita yang dibawa ke Barito karena bokap ingin mencari pakan burung atau sekadar menambah koleksi ikannya. Sambil bokap sibuk tawar-menawar harga dengan penjual, kita dibiarkan mengeksplorasi kios-kios di sekitarnya.
Momen-momen sederhana seperti ini yang sekarang sulit ditemukan kembali. Di Barito, tidak ada gadget yang mengalihkan perhatian. Interaksi yang terjadi benar-benar nyata antara penjual dan pembeli, atau antara ayah yang menjelaskan jenis-jenis burung kepada anaknya. Barito mengajarkan kita tentang kesabaran dalam merawat makhluk hidup dan menghargai hobi yang sederhana namun mendalam.
Perubahan Wajah dari Pasar Hewan ke Kawasan Hits
Seiring berjalannya waktu, wajah Barito mulai berubah. Kebijakan relokasi dan penataan kota membuat jumlah pedagang hewan di sana berkurang drastis. Area yang dulunya dipenuhi kios hewan kini bertransformasi menjadi area publik yang lebih rapi dengan trotoar yang lebar. Munculnya tempat-tempat seperti Taman Literasi Martha Christina Tiahahu memberikan nafas baru bagi kawasan ini.
Sekarang, orang ke Barito untuk mencari kopi manual brew atau mencari buku di perpustakaan. Memang tempatnya jadi lebih bersih, tidak bau, dan sangat nyaman untuk berjalan kaki. Namun, bagi kita yang pernah merasakan era 2000-an, ada sedikit rasa rindu terhadap kekacauan yang teratur di masa lalu. Kita merindukan suasana pasar yang riuh, suara burung yang kadang memekakkan telinga, dan bau amis air akuarium yang justru terasa jujur.
![]() |
| Gambar dibuat menggunakan AI. |
Barito adalah saksi bisu perjalanan Jakarta Selatan. Ia bertransformasi dari pusat perdagangan hobi tradisional menjadi pusat gaya hidup modern. Meskipun fungsinya berubah, memori tentang Barito sebagai surga hewan peliharaan tetap abadi dalam ingatan generasi 2000-an. Tempat ini mengingatkan kita bahwa kebahagiaan masa kecil terkadang sesederhana membawa pulang seekor ikan dalam plastik atau mendengarkan kicauan burung di bawah terik matahari Jakarta.
Bagi lo yang sekarang sering nongkrong di cafe sekitar Barito, coba sesekali tutup mata sejenak dan bayangkan suasana dua dekade lalu. Mungkin lo masih bisa mendengar sisa-sisa suara burung atau merasakan hembusan angin yang membawa aroma masa kecil lo. Barito bukan cuma tentang lokasi, Barito adalah tentang perasaan yang nggak akan pernah bisa dibeli dengan uang.


Comments
Post a Comment