Kalau kita bicara soal sejarah tongkrongan di Jakarta, rasanya tidak mungkin kalau kita tidak menyebut satu nama yang sempat jadi raja di setiap sudut jalan: 7-Eleven. Bagi kita yang melewati masa remaja atau masa kuliah di rentang tahun 2009 sampai 2017, tempat ini bukan cuma sekadar toko kelontong atau minimarket biasa. 7-Eleven, atau yang lebih akrab kita panggil Sevel, adalah saksi bisu transisi budaya anak muda Jakarta dari era analog ke era digital yang serba cepat.
![]() |
| Gambar dibuat menggunakan AI. |
Gue masih ingat betul gimana rasanya pertama kali Sevel buka di Bulungan atau di Kemang. Waktu itu, konsep minimarket yang menyediakan meja dan kursi di area parkir adalah sesuatu yang revolusioner. Sebelumnya, kalau mau nongkrong ya pilihannya cuma dua: di mal yang mahal atau di warung tenda pinggir jalan yang gerah. Sevel datang membawa solusi tengah: ruangan ber-AC yang dingin, makanan cepat saji yang bisa kita racik sendiri, dan yang paling penting adalah area duduk yang luas tanpa perlu bayar pajak layanan yang mahal.
Awal Mula Invasi Hijau Putih Merah di Jakarta
Sekitar tahun 2009, Jakarta mulai diramaikan dengan logo hijau, putih, dan merah yang ikonik. Fenomena ini bermula dari pergeseran gaya hidup. Anak Jaksel saat itu butuh tempat yang terlihat modern tapi tetap ramah di kantong pelajar atau mahasiswa. Sevel berhasil membaca peluang itu dengan sangat jitu. Mereka tidak cuma menjual rokok atau minuman dingin, tapi mereka menjual gaya hidup.
Gue rasa lo pasti setuju kalau Sevel itu tempat yang sangat demokratis. Di sana, lo bisa melihat anak sekolah yang masih pakai seragam batik, mahasiswa yang lagi pusing sama skripsi, sampai karyawan kantoran yang baru pulang kerja, semuanya membaur jadi satu. Tidak ada aturan berpakaian yang kaku. Lo mau pakai kaos oblong dan sandal jepit pun tidak akan ada yang memandang sebelah mata. Inilah yang membuat Sevel cepat sekali diterima oleh masyarakat Jakarta khususnya di wilayah Selatan.
Ritual Wajib: Slurpee dan Keju Cair yang Melimpah
Bicara soal Sevel tanpa membahas makanannya itu ibarat makan nasi goreng tanpa kerupuk. Ada sebuah ritual yang gue yakin pernah lo lakukan setidaknya sekali dalam hidup: ritual membuat Slurpee. Ini bukan sekadar membeli minuman es serut, tapi ada seninya. Kita bakal menggoyang-goyangkan cup supaya isinya padat, lalu mencampur semua rasa yang ada mulai dari Coca-Cola, Fanta, sampai Bubblegum. Hasilnya? Warnanya jadi ungu kecokelatan yang aneh tapi rasanya segar minta ampun.
Lalu, ada satu benda yang jadi rebutan semua orang: mesin dispenser keju cair. Gue sering melihat orang membeli satu kantong keripik atau sosis Gulp hanya supaya mereka punya alasan untuk memencet tombol keju itu berkali-kali. Rasanya memang sangat artifisial, tapi ada kepuasan tersendiri saat melihat sosis atau nachos kita tenggelam dalam lautan saus keju kuning yang hangat. Inilah definisi mewah bagi dompet tipis di akhir bulan.
Budaya Parkiran dan Era Blackberry Messenger
Satu hal yang paling ikonik dari Sevel Jaksel adalah budaya parkirannya. Di lokasi seperti Sevel Bulungan atau Sevel Tebet, parkiran adalah panggung utama. Banyak anak muda yang datang ke sana bukan cuma buat makan, tapi buat "mejeng". Mobil-mobil modifikasi dengan sound system yang menggelegar atau motor-motor hits pada zamannya berderet rapi.
Ini juga merupakan masa kejayaan Blackberry. Gue sering melihat pemandangan satu meja penuh orang, tapi semuanya menunduk menatap layar Blackberry masing-masing. Bunyi notifikasi "P Ping!" atau suara trackball yang diputar jadi musik latar yang biasa di Sevel. Kita sering kali saling tukar PIN Blackberry di sini, atau sekadar membuat status "Lagi di Sevel Kemang bareng anak-anak" biar kelihatan hits di mata kontak kita.
Nongkrong di Sevel itu tidak ada batas waktunya. Selama lo masih punya satu cup minuman di meja, lo bisa duduk berjam-jam tanpa perlu takut diusir oleh pelayan. Inilah yang bikin Sevel jadi tempat paling nyaman buat curhat soal gebetan atau sekadar bahas rencana liburan semester yang biasanya cuma jadi wacana.
Kenapa Sevel Lebih Berkesan daripada Kafe Estetik Zaman Sekarang
Kalau lo perhatikan, sekarang Jakarta penuh dengan kafe estetik yang desain interiornya sangat minimalis dan cantik untuk difoto di Instagram. Tapi jujur saja, gue merasa ada yang hilang. Nongkrong di kafe zaman sekarang itu rasanya terlalu "berusaha". Kita harus pakai baju paling bagus, harus pesan menu yang namanya susah disebut, dan kadang merasa tidak enak kalau duduk terlalu lama tapi cuma pesan satu gelas kopi hitam.
Sevel itu berbeda. Sevel itu jujur. Di sana tidak ada tekanan untuk terlihat sempurna. Lo bisa tertawa sekeras mungkin sama teman-teman lo tanpa takut mengganggu orang yang lagi kerja pakai laptop. Vibe kebersamaan di Sevel itu sangat organik. Kita semua ke sana dengan tujuan yang sama: cari tempat dingin, makanan murah, dan bisa ngobrol sampai pagi. Keramahan yang tidak dibuat-buat itulah yang bikin kita semua merasa kehilangan saat satu per satu gerai Sevel mulai tutup di tahun 2017.
Akhir dari Sebuah Era yang Bersejarah
Penutupan 7-Eleven di Indonesia pada tahun 2017 memang terasa seperti akhir dari sebuah era. Banyak faktor yang menyebabkannya, mulai dari masalah regulasi sampai persaingan bisnis yang semakin ketat. Tapi bagi kita, penutupan itu bukan sekadar berita ekonomi di koran. Itu adalah hilangnya salah satu tempat kenangan terbaik kita.
![]() |
| Gambar dibuat menggunakan AI. |
Sekarang, lahan yang dulu jadi Sevel mungkin sudah berubah jadi gedung perkantoran, bank, atau minimarket lain yang tidak punya kursi untuk nongkrong. Tapi setiap kali gue lewat di daerah Bulungan atau jalan raya menuju Tebet, gue selalu teringat bau khas toko itu: perpaduan antara bau pembersih lantai, aroma sosis yang dipanggang, dan manisnya sirup Slurpee.
Masa-masa itu memang sudah lewat. Kita semua sudah tumbuh dewasa, sudah punya kesibukan masing-masing, dan mungkin sudah tidak kuat lagi kalau disuruh nongkrong di parkiran sampai jam dua pagi. Tapi memori tentang Sevel sebagai tempat nongkrong hemat paling legendaris akan selalu punya tempat spesial di hati anak Jaksel angkatan kita. Sevel bukan cuma toko, Sevel adalah rumah kedua bagi kita yang pernah muda di masa itu.


Comments
Post a Comment