Kalau lo sering lewat daerah Jakarta Selatan, pasti lo sudah nggak asing lagi dengan satu nama daerah yang punya reputasi cukup legendaris: Cipulir. Tapi sayangnya, reputasi yang gue maksud di sini bukan soal prestasi atau tempat wisata yang estetik, melainkan soal banjirnya yang nggak pernah absen tiap tahun. Gue sering banget mikir, kenapa sih daerah ini seolah punya langganan tetap sama air luapan sungai setiap kali musim hujan datang? Bahkan kalau lo perhatikan, zaman sudah berubah drastis. Dulu kita masih sering lihat Metro Mini S69 yang asapnya hitam pekat itu ugal ugalan di jalanan Cipulir, sekarang zamannya sudah berganti ke bus TransJakarta yang jauh lebih nyaman dan modern. Tapi satu hal yang nggak pernah berubah adalah genangan air yang tingginya bisa bikin motor mogok massal.
![]() |
| Gambar dibuat menggunakan AI. |
Mari kita jujur satu sama lain. Setiap kali awan mendung sudah mulai gelap di langit Jakarta, warga yang tinggal atau sering melintas di sekitar Pasar Cipulir pasti sudah mulai merasa was-was. Fenomena ini seolah menjadi siklus abadi yang tidak kunjung selesai. Mau gubernurnya ganti berapa kali pun, atau mau kebijakan normalisasi sungai dibicarakan sampai mulut berbusa, Cipulir tetap menjadi titik yang paling rapuh saat menghadapi curah hujan tinggi. Gue mau coba ajak lo bedah lebih dalam soal apa yang sebenarnya terjadi di balik layar, kenapa daerah ini seolah punya "magnet" untuk menarik air masuk ke jalanan dan rumah warga.
Geografi yang Menjebak: Cipulir adalah Cekungan Raksasa
Alasan pertama yang harus lo pahami adalah soal posisi geografis. Kalau lo lihat peta topografi Jakarta, lo akan sadar kalau Cipulir itu berada di posisi yang cukup apes. Daerah ini secara alami memang lebih rendah dibandingkan dengan wilayah di sekelilingnya. Gue sering mengibaratkan Cipulir itu seperti bagian dasar dari sebuah mangkuk raksasa. Jadi, saat air hujan turun dengan deras, hukum alam akan bekerja: air akan mengalir ke tempat yang paling rendah. Celakanya, tempat paling rendah itu ya di Cipulir ini.
Masalahnya jadi makin pelik karena di dekat situ ada aliran Sungai Pesanggrahan. Sungai ini adalah salah satu nadi utama drainase di Jakarta Selatan, tapi sekaligus menjadi ancaman terbesar buat warga Cipulir. Pas debit air di hulu, misalnya di daerah Bogor atau Depok sedang tinggi, Sungai Pesanggrahan akan menerima beban air yang luar biasa besar. Karena Cipulir letaknya nempel banget sama sungai ini dan tanahnya rendah, air nggak punya pilihan lain selain meluap ke daratan. Jadi, lo jangan heran kalau kadang di Cipulir nggak hujan, tapi tiba-tiba jalanan sudah tergenang air kiriman.
Transformasi Lahan: Dari Resapan Menjadi Hutan Beton
Gue yakin lo yang sudah tinggal di Jakarta sejak era 90-an atau awal 2000-an pasti ingat kalau dulu Jakarta masih punya banyak lahan kosong atau rawa-rawa kecil yang berfungsi sebagai daerah resapan air. Dulu, saat hujan turun, tanah masih bisa menjalankan tugasnya untuk menyerap air ke dalam bumi. Tapi sekarang, coba lo lihat sendiri kondisi di Cipulir. Pembangunan sudah begitu masif dan sangat padat.
Pasar Cipulir yang legendaris itu makin hari makin padat. Bangunan ruko, gedung-gedung komersial, sampai pemukiman warga sudah menutup hampir setiap jengkal tanah yang ada. Hasilnya adalah permukaan tanah sekarang didominasi oleh aspal dan beton. Saat air hujan jatuh, dia nggak bisa masuk ke dalam tanah karena jalannya tertutup. Air itu akhirnya mengalir di permukaan, mencari celah, dan akhirnya berkumpul di titik terendah. Ditambah lagi dengan sistem drainase atau selokan kita yang seringkali ukurannya nggak sebanding dengan volume air yang harus dialirkan. Belum lagi kalau bicara soal sampah yang sering menyumbat lubang-lubang drainase itu. Kombinasi antara beton dan drainase yang buruk adalah resep sempurna untuk bencana banjir.
Penyempitan Sungai dan Hilangnya Hak Air
Satu hal lagi yang sering gue perhatikan adalah soal lebar sungai. Kalau lo iseng jalan-jalan ke pinggir Sungai Pesanggrahan di sekitar Cipulir, lo bakal lihat betapa mepetnya bangunan warga dengan bibir sungai. Seharusnya sungai itu punya ruang yang luas untuk mengalirkan air, tapi realitanya badan sungai makin lama makin menyempit karena terdesak oleh pembangunan pemukiman maupun tempat usaha.
Zaman dulu saat Metro Mini S69 masih menjadi raja jalanan di sana, mungkin lebar sungainya masih lumayan luas. Tapi seiring berjalannya waktu, erosi dan pembangunan yang nggak terkontrol bikin sungai itu jadi "sesak napas". Bayangkan volume air yang sangat besar dipaksa melewati lorong sungai yang sempit. Ya sudah pasti airnya bakal "protes" dan meluber ke jalan raya. Ini yang gue sebut sebagai hilangnya hak air. Kita mengambil ruang milik sungai untuk bangunan, maka jangan marah kalau suatu saat air sungai datang berkunjung ke ruang tamu kita untuk mengambil kembali haknya.
Nostalgia dan Realita yang Pahit
Ada rasa nostalgia yang aneh saat gue membicarakan soal Cipulir. Gue teringat masa-masa sekolah dulu, di mana naik bus S69 melewati Cipulir saat banjir adalah sebuah petualangan tersendiri. Sopir Metro Mini yang nekat itu seringkali tetap tancap gas menembus banjir, bikin gelombang air yang masuk ke dalam bus dan bikin penumpang harus angkat kaki ke atas kursi. Itu adalah memori yang ikonik buat anak Jakarta Selatan angkatan lama.
Tapi kalau kita lihat sekarang, di era yang katanya sudah serba modern ini, rasanya miris melihat pemandangan yang sama masih terus berulang. Perbedaannya sekarang mungkin cuma kendaraannya saja yang lebih bagus. Sekarang ada TransJakarta yang punya jalur sendiri, tapi tetap saja kalau banjirnya sudah keterlaluan, operasional bus juga bakal terganggu. Orang-orang yang mau kerja atau pulang kantor harus terjebak macet berjam-jam karena akses jalan yang terputus. Ini menunjukkan bahwa kemajuan transportasi kita nggak akan pernah maksimal kalau masalah infrastruktur dasar seperti pengendalian banjir ini nggak pernah benar-benar tuntas.
Mencari Solusi yang Bukan Sekadar Janji
Lalu apa sih solusi yang masuk akal menurut lo? Gue pribadi melihat pemerintah sudah berusaha lewat proyek normalisasi atau naturalisasi sungai. Tapi masalahnya, eksekusinya seringkali terbentur masalah sosial seperti pembebasan lahan. Memindahkan orang-orang yang sudah tinggal puluhan tahun di pinggir sungai itu bukan perkara mudah. Tapi di sisi lain, kalau nggak dilakukan tindakan ekstrem, ya Cipulir bakal tetap begini sampai puluhan tahun ke depan.
![]() |
| Gambar dibuat menggunakan AI. |
Selain itu, pembangunan sumur resapan yang masif di daerah-daerah yang lebih tinggi di sekitar Cipulir juga sangat penting. Tujuannya supaya air hujan nggak semuanya langsung lari ke bawah, tapi ditahan dulu di atas. Gue juga berharap pengawasan terhadap pembangunan gedung baru di Jakarta Selatan harus diperketat soal kewajiban menyediakan lahan hijau dan sistem drainase mandiri. Kita nggak bisa cuma berharap pada pompa air milik pemerintah saja kalau volume airnya memang sudah melebihi kapasitas pompa itu sendiri.
Pada akhirnya, banjir di Cipulir adalah cermin dari bagaimana kita mengelola kota ini selama puluhan tahun. Ini adalah pengingat bahwa alam punya caranya sendiri untuk menunjukkan kekuatannya jika kita terus-menerus mengabaikan keseimbangan lingkungan demi kepentingan ekonomi sesaat. Selama kita belum bisa mengembalikan ruang bagi air untuk mengalir dan meresap, selama itu pula kita harus siap berbagi ruang dengan banjir setiap kali musim hujan tiba.


Comments
Post a Comment