Skip to main content

Mengenal Haji Nawi, Tuan Tanah Betawi di Balik Nama Stasiun MRT Jakarta yang Ikonik

Gue yakin lo pernah mengalami hal ini. Setiap hari ribuan orang turun di sebuah stasiun MRT di Jakarta Selatan, membaca nama "Haji Nawi" di papan penanda, lalu berjalan melewatinya tanpa pernah bertanya. Gue sendiri dulu mengira itu hanya nama jalan, atau mungkin nama yang diberikan sembarangan oleh pemerintah kolonial. Tapi ternyata, di balik nama tersebut ada sosok nyata. Ada orang betulan yang pernah hidup, bernafas, dan berpengaruh besar di bumi Jakarta.


Ilustrasi anime persimpangan jalan Fatmawati dan Haji Nawi dengan gedung ITC Fatmawati, kereta MRT di latar belakang, pedagang martabak, dan arsitektur tradisional Betawi pada golden hour
Gambar dibuat menggunakan AI.

Kisah ini bukan tentang legenda urban, bukan pula tentang mitos yang dibuat-buat. Ini adalah cerita tentang Haji Nawi, seorang tuan tanah Betawi asli yang kekayaannya meliputi hampir seluruh area Gandaria dan Cilandak pada awal abad ke-20. Sosok yang namanya kini diabadikan di salah satu stasiun transportasi modern terpadat di ibu kota, namun sejarahnya sendiri hampir terlupakan oleh waktu.


Siapa Sebenarnya Haji Nawi?

Haji Nawi lahir pada tahun 1877 di kawasan Gandaria, Jakarta Selatan. Berbeda dengan anggapan banyak orang yang mengira dia adalah tokoh Arab atau pendatang, Haji Nawi adalah warga Betawi asli. Keturunan asli Jakarta yang hidup dan tumbuh di tanah yang kini menjadi pusat keramaian metropolitan.

Pada masanya, Haji Nawi dikenal sebagai salah satu saudagar paling berpengaruh di wilayah selatan Batavia, nama Jakarta pada zaman kolonial Belanda. Kekayaannya tidak main-main. Dia memiliki lahan seluas lebih dari 10 lapangan sepak bola di area yang kini menjadi kawasan elit Jakarta. Bayangkan, satu orang memiliki tanah segede itu di pusat kota yang kini harganya selangit.

Yang membuatnya berbeda dari tuan tanah kebanyakan adalah gaya hidupnya yang sederhana meski sangat kaya raya. Haji Nawi memiliki kuda putih pribadi yang digunakan untuk berkeliling mengawasi tanah-tanahnya. Bukan mobil mewah, bukan kereta kuda yang berhias, tapi seekor kuda putih yang setiap hari membentangkannya melintasi hamparan kebun dan perkebunan miliknya.


Kehidupan Pribadi dan Nilai-nilai yang Dianut

Haji Nawi menikahi empat orang istri dan memiliki tujuh orang anak. Poligami pada masa itu bukanlah hal yang aneh bagi kalangan berada, namun yang menarik adalah bagaimana dia mengelola kekayaannya. Banyak tuan tanah pada era tersebut yang hidup mewah, membangun istana megah, atau menghambur-hamburkan harta untuk gaya hidup hedonis. Haji Nawi memilih jalan berbeda.

Dia dikenal sebagai sosok yang sangat dermawan. Tanah-tanah luas yang dimilikinya bukan hanya untuk kekayaan pribadi, tapi juga untuk kepentingan umum. Sebagian besar hartanya diwakafkan untuk pembangunan masjid dan lahan pemakaman umum yang bisa digunakan gratis oleh warga sekitar. Masjid Nurul Huda yang berdiri kokoh hingga kini adalah salah satu bukti nyata dari kebaikan hatinya.

Kebiasaan bersedekah dan berwakaf ini bukanlah sekadar tren atau untuk pencitraan. Melainkan bagian dari keyakinannya bahwa kekayaan sejati adalah yang bisa memberikan manfaat bagi orang banyak. Prinsip ini yang membuat namanya dikenal bukan hanya karena hartanya, tapi juga karena kebaikannya.


Meninggal dan Terlupakan

Haji Nawi meninggal dunia pada tahun 1934. Saat itu, Indonesia masih dalam masa penjajahan Belanda. Jakarta belum menjadi kota metropolitan seperti sekarang. MRT belum ada, jalan tol belum dibangun, dan Gandaria masih merupakan area pinggiran yang didominasi perkebunan dan pemukiman sederhana.

Setelah kematiannya, nama Haji Nawi perlahan memudar dari ingatan publik. Generasi baru tumbuh tanpa mengetahui siapa sosok di balik nama jalan atau area yang mereka huni. Sejarah lokal seringkali tenggelam dalam arus modernisasi yang cepat. Bangunan tua dihancurkan, cerita-cerita lama tidak lagi diceritakan, dan tokoh-tokoh penting masa lalu terlupakan.

Selama puluhan tahun, Haji Nawi hanya menjadi nama di peta. Nama yang disebutkan sekilas tanpa makna, tanpa cerita, tanpa penghormatan kepada sosok yang pernah berjasa besar bagi wilayah tersebut. Anak-anak sekolah belajar tentang pahlawan nasional, tapi tidak belajar tentang tokoh lokal yang membentuk sejarah kota mereka sendiri.


Kebangkitan Nama di Era Modern

Punahnya sejarah lokal ini mulai berubah pada era 2010-an. Ketika pemerintah DKI Jakarta merencanakan pembangunan MRT, muncul kebutuhan untuk memberi nama stasiun-stasiun yang akan dibangun. Bukan nama generik seperti "Stasiun Selatan" atau "Stasiun Gandaria", tapi nama yang memiliki makna historis dan kultural.

Nama Haji Nawi kemudian muncul kembali ke permukaan. Setelah riset dan diskusi dengan sejarawan serta tokoh masyarakat, diputuskan bahwa stasiun di area tersebut akan dinamai "Stasiun Haji Nawi". Bukan sekadar penghormatan, tapi juga upaya untuk mengedukasi publik tentang sejarah lokal mereka sendiri.

Stasiun Haji Nawi yang kini berdiri megah adalah salah satu stasiun tersibuk di koridor MRT Jakarta. Setiap hari, ribuan penumpang turun dan naik di sana. Mereka yang dulu tidak pernah mendengar nama tersebut kini mengucapkannya setiap hari. Mereka yang dulu tidak tahu siapa sosok di balik nama itu kini memiliki kesempatan untuk belajar.


Ironi Sejarah yang Menarik

Ada ironi menarik dalam kisah ini. Haji Nawi meninggal pada tahun 1934, jauh sebelum teknologi transportasi modern seperti MRT ada di Jakarta. Dia hidup di era kuda dan kereta kuda, namun namanya diabadikan di era kereta bawah tanah canggih. Dia hidup di era kolonial, namun namanya dikenang di era kemerdekaan dan modernisasi.

Dia yang pernah berkeliling mengawasi tanahnya dengan kuda putih kini "dikunjungi" setiap hari oleh ribuan orang menggunakan transportasi modern. Tanah yang dulunya perkebunan dan area terbuka kini menjadi pusat keramaian dengan mall, apartemen mewah, dan pusat bisnis. Perubahan drastis ini menunjukkan betapa dinamisnya perkembangan Jakarta, namun juga betapa pentingnya menjaga jejak sejarah di tengah perubahan tersebut.


Pelajaran yang Bisa Diambil

Kisah Haji Nawi mengajarkan kita beberapa hal penting. Pertama, kekayaan sejati bukanlah tentang seberapa banyak harta yang kita miliki, tapi seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan. Haji Nawi bisa saja menghabiskan uangnya untuk gaya hidup mewah, tapi dia memilih untuk berbagi.

Kedua, sejarah lokal itu penting. Kita seringkali terlalu fokus pada sejarah nasional atau global, sementara mengabaikan cerita-cerita di sekitar kita. Setiap nama jalan, setiap nama area, setiap nama bangunan umum memiliki kisah di baliknya. Kisah yang menunggu untuk diceritakan dan dipelajari.

Ketiga, warisan tidak selalu harus berbentuk bangunan fisik. Warisan bisa berupa nama, bisa berupa prinsip, bisa berupa cerita yang terus diceritakan. Haji Nawi tidak meninggalkan istana megah, tapi dia meninggalkan nama yang kini dikenal jutaan orang.


Lihat Sekitar dengan Mata Berbeda

Next time lo turun di Stasiun Haji Nawi, atau melewati area Gandaria dan Cilandak, lihat sekitar dengan mata berbeda. Ingat bahwa tanah yang kini lo pijak pernah dimiliki oleh seorang dermawan yang hidup sederhana namun berpengaruh besar. Ingat bahwa nama yang lo ucapkan setiap hari adalah nama orang betulan, bukan sekadar label geografi.


Ilustrasi anime gaya Studio Ghibli menampilkan Stasiun MRT Haji Nawi Jakarta Selatan pada sore hari dengan penumpang yang ramai, pedagang kaki lima, dan suasana kota yang hangat
Gambar dibuat menggunakan AI.

Kisah Haji Nawi adalah pengingat bahwa di balik setiap tempat yang kita anggap biasa, ada cerita luar biasa yang menunggu untuk ditemukan. Kita hanya perlu mau bertanya, mau mencari tahu, dan mau menceritakan kembali agar sejarah tidak terlupakan.

Gue sendiri bersyukur sudah mengetahui kisah ini. Karena kini, setiap kali mendengar nama Haji Nawi, gue tidak hanya mengingat sebuah stasiun atau nama jalan. Gue mengingat seorang tuan tanah Betawi dengan kuda putihnya, yang pernah berjalan di tanah yang kini kita semua huni.

Comments

Popular posts from this blog

Nostalgia Kemang Era 2000-an: Mengapa Kawasan Ini Menjadi Pusat Semesta Anak Jaksel pada Masanya

Kalau kita bicara soal Jakarta Selatan hari ini, pikiran lo pasti langsung tertuju pada deretan kafe mewah di Senopati , gedung pencakar langit di SCBD , atau keramaian di Pantai Indah Kapuk . Tapi, buat lo yang sempat melewati masa muda di tahun 2000-an, lo pasti tahu kalau ada satu wilayah yang punya aura tak tertandingi, yaitu Kemang . Sebelum kawasan lain di Jakarta mulai bersolek dengan konsep modern yang serba seragam, Kemang sudah lebih dulu berdiri sebagai pusat semesta bagi anak muda Jakarta Selatan. Gambar dibuat menggunakan AI. Kemang di era itu bukan sekadar titik koordinat di peta. Ia adalah sebuah identitas, sebuah ruang di mana berbagai macam subkultur melebur jadi satu. Mulai dari anak indie yang hobi koleksi vinyl, sampai gerombolan anak pesta yang nggak pernah absen tiap akhir pekan, semua tumpah ruah di sini. Gue akan mengajak lo untuk kembali memutar waktu, melihat alasan mengapa Kemang di masa itu terasa jauh lebih ikonik dan penuh kenangan dibandingkan tempat hit...

Tren Nightlife Jakarta 2026: Era Baru Intimate Bar dan Vinyl Set

Kalau lo sering jalan malam di Jakarta , lo pasti ngerasa ada sesuatu yang berubah di udara. Coba inget lagi beberapa tahun lalu, waktu SCBD dan Senopati masih jadi pusat gravitasi segala jenis hiburan malam. Ritualnya selalu sama: dandan maksimal, pesen table dengan harga yang bikin dompet nangis, lalu berdiri di tengah dentuman musik EDM yang kencengnya luar biasa sampai telinga lo berdenging. Itu adalah era di mana validasi sosial diukur dari seberapa besar botol yang ada di meja lo dan seberapa strategis posisi table lo di dalem club. Tapi sekarang, gue liat pemandangan itu mulai bergeser. Anak Jaksel pelan-pelan mulai ninggalin lampu diskotik yang menyilaukan dan pindah ke tempat yang lebih hangat, lebih kecil, dan lebih manusiawi. Gambar dibuat menggunakan AI. Kejenuhan Terhadap Kebisingan dan Gengsi Visual Pergeseran ini bukan tanpa alasan. Gue ngerasa kita semua lagi di titik jenuh sama yang namanya kebisingan. Club besar itu seru, tapi ada kalanya lo cuma mau keluar buat n...

Kenangan Carrefour Lebak Bulus: Cerita di Balik Gedung Kosong yang Pernah Jadi Pusat Semesta Warga Jaksel

Kalau lo sering lewat area Lebak Bulus akhir-akhir ini, pasti lo bakal melihat pemandangan yang kontras banget. Di satu sisi, ada kemegahan Stasiun MRT Lebak Bulus Grab dengan kereta biru yang lalu lalang tiap beberapa menit. Tapi tepat di sebelahnya, berdiri sebuah gedung besar yang tampak sunyi dan kosong. Buat orang yang baru pindah ke Jakarta, mungkin itu cuma gedung tua yang menunggu dihancurkan. Tapi buat kita yang sudah lama tinggal di Jakarta Selatan , Ciputat , atau Cinere , gedung itu adalah saksi bisu ribuan memori hari Minggu yang indah. Gambar dibuat menggunakan AI. Gue masih ingat betul bagaimana rasanya momen belanja bulanan di Carrefour Lebak Bulus dulu. Tempat ini bukan sekadar supermarket atau toko ritel biasa. Bagi banyak keluarga, Carrefour Lebak Bulus adalah pusat hiburan, tempat healing paling terjangkau, dan titik temu yang menyatukan banyak orang dari berbagai kalangan. Sebelum era mal mewah menjamur di setiap sudut Jakarta, gedung ini adalah magnet utama ya...