Skip to main content

Mencari Ketenangan di Blok A: Sudut Jakarta Selatan yang Sering Terlupakan

Selama beberapa tahun terakhir, perhatian semua orang seolah tersedot ke satu titik di Jakarta Selatan, yaitu Blok M. Kawasan itu mendadak jadi pusat semesta bagi anak muda, tempat di mana kafe estetik, toko rilisan fisik, dan bar bergaya Jepang tumbuh subur di tiap sudutnya. Lo pasti sudah terbiasa melihat antrean panjang di depan kedai kopi atau orang-orang yang sibuk berpose ootd di trotoar. Namun, pernahkah lo merasa jenuh dengan semua hiruk pikuk itu. Jika jawabannya iya, mungkin ini saatnya lo mencoba untuk turun satu stasiun lebih awal.


Pemandangan jalan perumahan di Blok A Jakarta Selatan dengan latar belakang jalur beton MRT yang melintang di atas rumah-rumah warga.
Gambar dibuat menggunakan AI.

Selamat datang di Blok A. Sebuah kawasan yang sering kali hanya dianggap sebagai titik transit atau tempat lewat bagi para pengguna MRT. Banyak orang yang setiap hari melihat papan nama stasiun ini dari balik jendela kereta, tapi sangat sedikit yang benar-benar memutuskan untuk melangkah keluar dan menyusuri jalanannya. Padahal, di balik beton jalur MRT yang gagah, Blok A menyimpan ketenangan yang sudah sangat langka ditemukan di bagian lain Jakarta Selatan.


Kontras yang Nyata di Balik Jalur MRT

Begitu lo menginjakkan kaki keluar dari Stasiun MRT Blok A, suasana yang lo rasakan akan langsung berbeda. Jika di Blok M lo disambut oleh kebisingan mesin kopi dan deru kendaraan yang padat, di Blok A lo akan disambut oleh keheningan yang sedikit mengejutkan. Rasanya seperti lo baru saja menekan tombol mute pada hiruk pikuk Jakarta.

Jalur beton MRT yang melintang tinggi di atas Jalan Panglima Polim memberikan bayangan yang meneduhkan di area bawahnya. Namun, begitu lo berbelok masuk ke arah permukiman, pemandangan berganti menjadi deretan rumah tua yang masih terjaga keasliannya. Blok A bukan tempat untuk mencari gedung tinggi atau mal mewah. Di sini, lo akan menemukan Jakarta dalam bentuknya yang paling jujur, sebuah permukiman yang seolah menolak untuk ikut terburu-buru mengikuti ritme kota.

Gue pribadi merasa bahwa berjalan kaki di Blok A adalah sebuah bentuk terapi. Lo tidak perlu khawatir akan ditabrak oleh kurir motor yang sedang terburu-buru atau merasa terintimidasi oleh kerumunan orang yang tampil sangat modis. Di sini, lo bisa menjadi siapa saja, atau bahkan tidak menjadi siapa-siapa. Lo hanya seorang pengamat yang sedang menikmati ritme hidup warga lokal yang bergerak lambat.


Arsitektur Masa Lalu yang Bercerita

Salah satu daya tarik utama dari sudut yang terlupakan ini adalah arsitektur rumah-rumahnya. Banyak bangunan di kawasan Blok A yang masih mempertahankan gaya bangunan era 80-an atau 90-an. Pagar besi yang tinggi, pohon mangga yang rimbun di halaman depan, dan teras luas yang digunakan untuk duduk santai di sore hari. Ini adalah pemandangan yang sangat kontras dengan konsep hunian minimalis modern atau apartemen kotak yang sekarang mendominasi Jakarta.

Melihat rumah-rumah ini memberikan rasa familiar, seperti sedang pulang ke rumah kakek atau nenek di masa kecil. Tidak ada upaya untuk terlihat estetik demi kebutuhan konten media sosial. Semuanya dibangun berdasarkan fungsi dan kenyamanan penghuninya. Tanaman-tanaman dalam pot yang berjajar rapi di pinggir jalan menunjukkan bahwa orang-orang di sini masih peduli dengan lingkungan terkecil mereka.

Saat lo menyusuri gang-gang kecilnya, lo akan menyadari satu hal, yaitu tidak ada gimmick. Tidak ada tanda neon warna-warni atau poster acara musik yang ditempel di setiap tiang listrik. Yang ada hanyalah kehidupan yang organik. Lo mungkin akan melihat penjual sayur keliling yang sedang berbincang dengan warga, atau kucing-kucing liar yang tidur pulas di atas kap mobil yang terparkir. Hal-hal sederhana seperti ini yang sering kali kita lewatkan karena terlalu sibuk mencari tempat yang sedang viral.


Pelarian dari Budaya Cepat dan Viral

Kita hidup di era di mana sebuah tempat dianggap tidak ada jika tidak pernah muncul di fyp TikTok atau eksplor Instagram. Kita sering kali merasa terpaksa harus mendatangi tempat-tempat yang sedang tren hanya agar tidak merasa tertinggal. Dampaknya, kita kehilangan kemampuan untuk menikmati sebuah tempat secara apa adanya. Blok A adalah antidot yang tepat untuk fenomena ini.

Karena tidak ada objek wisata ikonik atau kafe yang sering diulas oleh influencer, lo jadi punya kebebasan penuh untuk menentukan apa yang menarik bagi lo. Mungkin itu adalah bayangan jalur MRT yang jatuh di aspal pada jam empat sore, atau mungkin percakapan singkat dengan bapak tukang parkir yang sudah menjaga sudut jalan itu selama belasan tahun.

Blok A menawarkan kemewahan berupa waktu dan privasi. Lo bisa berjalan sejauh satu kilometer tanpa harus berpapasan dengan kerumunan orang. Lo bisa berhenti sejenak untuk memotret sebuah tembok tua tanpa harus merasa menghalangi jalan orang lain. Ini adalah bentuk eksplorasi urban yang sebenarnya, di mana tujuan utamanya bukan untuk pamer, melainkan untuk merasakan koneksi dengan kota yang kita tinggali.


Menemukan Kembali Makna Jakarta Selatan

Selama ini, Jakarta Selatan selalu diidentikkan dengan gaya hidup mewah, kemacetan yang melelahkan, dan tempat nongkrong yang mahal. Namun, lewat Blok A, kita diingatkan bahwa Jakarta Selatan juga punya sisi yang sangat manusiawi. Ada bagian dari kota ini yang tetap hangat dan tenang meskipun pembangunan terus berjalan di sekelilingnya.

Kawasan ini membuktikan bahwa kita tidak perlu pergi jauh ke luar kota untuk mencari ketenangan. Kadang, ketenangan itu hanya berjarak satu stasiun dari tempat yang paling ramai sekalipun. Kita hanya perlu kemauan untuk melambatkan langkah dan melihat lebih dekat ke arah sudut-sudut yang selama ini kita abaikan.


Suasana gang kecil di Blok A Jakarta Selatan yang dipenuhi pepohonan rimbun dan deretan rumah dengan arsitektur klasik yang sunyi.
Gambar dibuat menggunakan AI.

Jika suatu hari lo merasa sangat lelah dengan segala kebisingan hidup, coba luangkan waktu satu jam saja di Blok A. Turunlah dari MRT, simpan ponsel lo di dalam saku, dan mulailah berjalan tanpa tujuan yang pasti. Lo akan menemukan bahwa keindahan tidak selalu harus megah atau viral. Terkadang, keindahan yang paling berkesan justru ditemukan di sudut yang paling sunyi dan terlupakan.

Dunia mungkin akan terus berputar dengan sangat cepat, dan kawasan di sekitar Blok A mungkin suatu saat akan ikut berubah menjadi lebih modern. Namun, selagi suasana tenang ini masih ada, rasanya sayang jika kita tidak pernah mencoba untuk merasakannya secara langsung. Blok A bukan sekadar titik transit, melainkan sebuah ruang untuk bernapas di tengah sesaknya jakarta.

Comments

Popular posts from this blog

Nostalgia Kemang Era 2000-an: Mengapa Kawasan Ini Menjadi Pusat Semesta Anak Jaksel pada Masanya

Kalau kita bicara soal Jakarta Selatan hari ini, pikiran lo pasti langsung tertuju pada deretan kafe mewah di Senopati , gedung pencakar langit di SCBD , atau keramaian di Pantai Indah Kapuk . Tapi, buat lo yang sempat melewati masa muda di tahun 2000-an, lo pasti tahu kalau ada satu wilayah yang punya aura tak tertandingi, yaitu Kemang . Sebelum kawasan lain di Jakarta mulai bersolek dengan konsep modern yang serba seragam, Kemang sudah lebih dulu berdiri sebagai pusat semesta bagi anak muda Jakarta Selatan. Gambar dibuat menggunakan AI. Kemang di era itu bukan sekadar titik koordinat di peta. Ia adalah sebuah identitas, sebuah ruang di mana berbagai macam subkultur melebur jadi satu. Mulai dari anak indie yang hobi koleksi vinyl, sampai gerombolan anak pesta yang nggak pernah absen tiap akhir pekan, semua tumpah ruah di sini. Gue akan mengajak lo untuk kembali memutar waktu, melihat alasan mengapa Kemang di masa itu terasa jauh lebih ikonik dan penuh kenangan dibandingkan tempat hit...

Tren Nightlife Jakarta 2026: Era Baru Intimate Bar dan Vinyl Set

Kalau lo sering jalan malam di Jakarta , lo pasti ngerasa ada sesuatu yang berubah di udara. Coba inget lagi beberapa tahun lalu, waktu SCBD dan Senopati masih jadi pusat gravitasi segala jenis hiburan malam. Ritualnya selalu sama: dandan maksimal, pesen table dengan harga yang bikin dompet nangis, lalu berdiri di tengah dentuman musik EDM yang kencengnya luar biasa sampai telinga lo berdenging. Itu adalah era di mana validasi sosial diukur dari seberapa besar botol yang ada di meja lo dan seberapa strategis posisi table lo di dalem club. Tapi sekarang, gue liat pemandangan itu mulai bergeser. Anak Jaksel pelan-pelan mulai ninggalin lampu diskotik yang menyilaukan dan pindah ke tempat yang lebih hangat, lebih kecil, dan lebih manusiawi. Gambar dibuat menggunakan AI. Kejenuhan Terhadap Kebisingan dan Gengsi Visual Pergeseran ini bukan tanpa alasan. Gue ngerasa kita semua lagi di titik jenuh sama yang namanya kebisingan. Club besar itu seru, tapi ada kalanya lo cuma mau keluar buat n...

Kenangan Carrefour Lebak Bulus: Cerita di Balik Gedung Kosong yang Pernah Jadi Pusat Semesta Warga Jaksel

Kalau lo sering lewat area Lebak Bulus akhir-akhir ini, pasti lo bakal melihat pemandangan yang kontras banget. Di satu sisi, ada kemegahan Stasiun MRT Lebak Bulus Grab dengan kereta biru yang lalu lalang tiap beberapa menit. Tapi tepat di sebelahnya, berdiri sebuah gedung besar yang tampak sunyi dan kosong. Buat orang yang baru pindah ke Jakarta, mungkin itu cuma gedung tua yang menunggu dihancurkan. Tapi buat kita yang sudah lama tinggal di Jakarta Selatan , Ciputat , atau Cinere , gedung itu adalah saksi bisu ribuan memori hari Minggu yang indah. Gambar dibuat menggunakan AI. Gue masih ingat betul bagaimana rasanya momen belanja bulanan di Carrefour Lebak Bulus dulu. Tempat ini bukan sekadar supermarket atau toko ritel biasa. Bagi banyak keluarga, Carrefour Lebak Bulus adalah pusat hiburan, tempat healing paling terjangkau, dan titik temu yang menyatukan banyak orang dari berbagai kalangan. Sebelum era mal mewah menjamur di setiap sudut Jakarta, gedung ini adalah magnet utama ya...