Kalau lo mendengar kata Mayestik, apa yang pertama kali terlintas di pikiran lo? Gue yakin sebagian besar dari lo bakal langsung membayangkan deretan toko kain yang sangat lengkap, penjahit jas yang sudah legendaris, atau mungkin jajanan pasar yang selalu bikin kangen. Mayestik memang sudah lama menjadi ikon belanja di Jakarta Selatan, khususnya buat mereka yang sedang mencari bahan pakaian berkualitas atau sekadar ingin kulineran santai di akhir pekan.
![]() |
| Gambar dibuat menggunakan AI. |
Namun, pernah gak sih lo kepikiran kenapa daerah itu dinamakan Mayestik? Nama ini terdengar sangat unik, tidak terasa seperti bahasa Indonesia asli, tapi juga bukan nama tokoh pahlawan seperti kebanyakan jalan di Jakarta. Ternyata, ada sejarah panjang dan cerita seru di balik nama tersebut yang melibatkan sebuah bioskop mewah, arsitektur peninggalan Belanda, dan kebiasaan lidah orang lokal dalam menyebutkan istilah asing.
Kebayoran Baru dan Proyek Kota Satelit
Untuk memahami asal-usul Mayestik, kita harus memutar waktu kembali ke era 1950-an. Saat itu, Jakarta sedang dalam masa pertumbuhan pesat setelah kemerdekaan. Wilayah Kebayoran Baru dirancang sebagai kota satelit modern pertama di Indonesia. Konsepnya sangat keren untuk ukuran zaman itu, yaitu menjadi kota taman yang rapi, hijau, dan teratur.
Dalam perencanaan tersebut, setiap blok di Kebayoran Baru diberikan fungsi yang spesifik. Ada kawasan hunian, perkantoran, dan tentu saja pusat perbelanjaan serta hiburan. Di tengah ambisi membangun kota modern inilah, sebuah bangunan monumental didirikan dan nantinya akan menjadi cikal bakal nama yang kita kenal sekarang.
Kemegahan Bioskop Majestic
Pada tahun 1955, berdiri sebuah bioskop yang sangat megah di kawasan tersebut. Namanya adalah Bioskop Majestic. Bangunan ini bukan sekadar tempat menonton film biasa, melainkan simbol kemewahan dan modernitas warga Jakarta pada masanya. Bioskop ini dirancang oleh seorang arsitek Belanda bernama Han Groenewegen yang memang terkenal dengan karya-karyanya yang elegan.
Majestic menjadi pusat perhatian karena gaya arsitekturnya yang sangat maju. Bayangkan saja, di saat banyak wilayah Jakarta masih terlihat sangat tradisional, Majestic sudah berdiri tegak dengan desain yang terkesan sangat eksklusif. Bioskop ini menjadi tempat favorit bagi kalangan menengah ke atas dan pejabat untuk menghabiskan waktu luang. Menonton di Majestic adalah sebuah kebanggaan tersendiri, mirip seperti kalau lo sekarang nongkrong di mall paling hits di pusat kota.
Nama "Majestic" sendiri dalam bahasa Inggris berarti megah, agung, atau berwibawa. Nama ini dipilih tentu untuk mencerminkan betapa mewahnya fasilitas yang ditawarkan di dalamnya. Mulai dari kualitas suara, kursi penonton yang nyaman, hingga suasana lobi yang sangat berkelas.
Ketika Lidah Lokal Mengubah Sejarah
Nah, di sinilah bagian menariknya. Meskipun nama resminya adalah Majestic, masyarakat sekitar dan para pengunjung dari berbagai daerah di Jakarta punya cara sendiri untuk menyebutnya. Pada masa itu, tidak semua orang terbiasa mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris dengan pelafalan yang sempurna.
Kata "Majestic" yang seharusnya diucapkan dengan aksen tertentu, pelan-pelan bergeser menjadi "Mayestik" agar lebih mudah diucapkan oleh lidah orang lokal. Ejaan ini menyesuaikan dengan cara orang kita membaca huruf secara literal. Fenomena ini sebenarnya sangat umum terjadi di Indonesia, di mana istilah asing diserap dan dimodifikasi menjadi lebih membumi.
Lama-kelamaan, penyebutan Mayestik jauh lebih populer dan dominan daripada nama aslinya. Orang-orang tidak lagi mengatakan "ayo kita ke Majestic", melainkan "ayo main ke Mayestik". Perubahan pelafalan ini akhirnya menjadi sangat permanen hingga identitas kawasan di sekitarnya pun ikut terbawa.
Transformasi Menjadi Pusat Perdagangan
Seiring berjalannya waktu, pamor bioskop di Jakarta mulai mengalami pasang surut. Persaingan dengan bioskop-bioskop baru di gedung yang lebih modern membuat Bioskop Majestic perlahan kehilangan kejayaannya. Meskipun secara fisik bangunannya sudah tidak berfungsi lagi sebagai bioskop, nama yang sudah terlanjur melekat di masyarakat tidak lantas hilang begitu saja.
Kawasan di sekitar eks-bioskop tersebut justru berkembang pesat menjadi pusat perdagangan, terutama tekstil dan kebutuhan busana. Para pedagang mulai bermunculan dan membangun toko-toko besar yang kini kita kenal sebagai Pasar Mayestik. Uniknya, meskipun inti dari keberadaan nama tersebut yaitu si bioskop sudah tiada, nama Mayestik tetap abadi sebagai identitas geografis.
Sekarang, kalau lo berkunjung ke sana, lo mungkin masih bisa menemukan sisa-sisa jejak arsitektur lama di beberapa sudut, meskipun sebagian besar sudah berubah menjadi gedung-gedung toko modern yang padat. Namun, roh dari kemegahan masa lalu itu tetap terasa lewat namanya yang ikonik.
Mengapa Kita Perlu Tau Sejarah Ini?
Mengetahui sejarah di balik nama sebuah tempat seperti Mayestik membuat kita lebih menghargai kota tempat kita tinggal. Jakarta bukan cuma kumpulan gedung beton dan kemacetan, tapi setiap sudutnya punya cerita yang membentuk identitas kita sekarang. Mayestik adalah bukti nyata bagaimana sebuah tren hiburan bisa berubah menjadi pusat ekonomi yang bertahan selama puluhan tahun.
Selain itu, cerita ini juga mengajarkan kita tentang bagaimana budaya lokal mampu berinteraksi dengan pengaruh luar. Nama yang awalnya sangat kebarat-baratan bisa berubah menjadi sesuatu yang terasa sangat "Jakarta" hanya lewat interaksi sehari-hari masyarakatnya.
![]() |
| Gambar dibuat menggunakan AI. |
Jadi, lain kali kalau lo sedang menawar harga kain atau sedang asyik makan kue subuh di sana, lo bisa pamer dikit ke teman-teman lo. Lo bisa bilang bahwa tempat yang kalian pijak itu dulunya adalah lokasi bioskop paling mewah di seluruh Jakarta yang namanya salah sebut sampai akhirnya menjadi legenda.
Sekarang coba lo bayangkan, berapa banyak lagi nama tempat di Jakarta yang kita sebut setiap hari tapi ternyata punya sejarah yang gak kalah seru dari Mayestik? Bisa jadi daerah rumah lo atau tempat lo kerja juga punya cerita yang bakal bikin lo geleng-geleng kepala kalau tau asalnya.


Comments
Post a Comment