Kalau lo sering main ke daerah Jakarta Selatan, terutama pas malam hari, pasti lo sudah tidak asing lagi dengan pemandangan trotoar di tikungan Jalan Mahakam dan Jalan Bulungan yang penuh sesak. Di sana, aroma kuah santan yang gurih bercampur dengan asap kendaraan menciptakan sebuah harmoni yang unik. Itulah dunia Gultik atau Gulai Tikungan. Fenomena ini menarik karena meski porsinya sering dianggap "porsi sarapan kucing" alias sedikit banget, orang-orang tetap rela mengantre bahkan nambah berkali-kali.
![]() |
| Gambar dibuat menggunakan AI. |
Sebenarnya, apa yang membuat sepiring kecil nasi dengan siraman kuah gulai ini begitu sakti sampai bisa menyatukan anak-anak SCBD dengan mereka yang sekadar melintas? Mari kita bedah alasannya satu per satu.
Rahasia di Balik Porsi yang Minimalis
Banyak orang yang baru pertama kali mencoba Gultik pasti akan kaget saat piringnya sampai di meja. Nasi seukuran kepalan tangan anak kecil, beberapa iris daging atau jeroan, disiram kuah, lalu diberi kerupuk. Reaksi pertamanya pasti: "Ini doang?"
Namun, secara tidak sadar, porsi yang sedikit itu justru merupakan strategi psikologis yang sangat berhasil. Kuah gulai adalah makanan yang sangat kaya akan lemak, santan, dan bumbu rempah yang kuat. Kalau lo langsung makan dalam porsi besar, ada risiko besar lo bakal merasa "enek" atau jenuh di tengah jalan. Dengan porsi yang sedikit, lidah lo selalu merasa kurang. Setiap suapan terasa sangat berharga, dan saat piring lo bersih, otak lo bakal mengirim sinyal bahwa rasanya sangat enak dan lo butuh satu piring lagi. Inilah yang membuat interaksi makan di Gultik jadi seru, ada kepuasan tersendiri saat lo menumpuk piring-piring kecil itu di atas meja.
Pelarian dari Penatnya Menara SCBD
Bagi anak Jaksel yang sehari-harinya bergelut dengan spreadsheet, meeting yang tidak ada habisnya, atau drama politik kantor di gedung-gedung tinggi kawasan SCBD, Gultik adalah sebuah antitesis. Di kantor, mereka mungkin harus tampil sempurna dengan kemeja rapi dan bahasa Inggris yang lancar. Namun, di Gultik, semua identitas itu seolah luntur.
Lo bisa melihat orang yang datang pakai mobil mewah duduk bersebelahan dengan driver ojek online di atas kursi plastik yang sama atau bahkan cuma beralaskan trotoar. Kontras gaya hidup inilah yang dicari. Ada perasaan "kembali ke bumi" saat lo makan di pinggir jalan setelah seharian berada di lingkungan yang serba artifisial. Gultik menjadi tempat "reset" paling murah dan paling jujur bagi mereka yang butuh suasana baru yang jauh dari AC kantor.
Vibe Jakarta Malam yang Tidak Bisa Dibeli
Pernahkah lo merasa kalau makanan yang sama jika dibungkus dan dimakan di rumah rasanya jadi beda? Itulah kekuatan dari "vibe" atau suasana. Makan Gultik di Blok M bukan cuma soal mengisi perut, tapi soal menyerap energi Jakarta malam hari.
Ada suara pengamen yang silih berganti membawakan lagu hits, deru motor yang lewat di depan mata, sampai angin malam yang membawa aroma khas kota ini. Suasana itu menciptakan memori kolektif. Lo mungkin lupa apa yang lo obrolin sama teman lo semalam, tapi lo bakal ingat betapa serunya ketawa-ketawa sambil kepanasan di trotoar Blok M jam satu pagi. Bagi anak Jaksel, pengalaman ini adalah kemewahan tersendiri yang tidak bisa didapatkan di restoran fine dining mana pun.
Ritual Sosial dan Memori Kolektif
Gultik sudah menjadi bagian dari sejarah perkembangan gaya hidup di Jakarta Selatan. Dari generasi ke generasi, tempat ini tetap eksis. Ada sebuah kebanggaan tersendiri saat lo bisa merekomendasikan "abang gultik langganan" lo ke orang lain. Ini menunjukkan kalau lo adalah bagian dari komunitas yang mengerti seluk-beluk kota ini.
Selain itu, Gultik adalah tempat yang paling netral untuk menutup malam. Habis nonton konser? Larinya ke Gultik. Habis party di Senopati? Melipir ke Gultik. Habis kerja lembur sampai tipes? Gultik adalah penyembuhnya. Kehadirannya yang konstan selama puluhan tahun membuatnya menjadi saksi bisu banyak cerita, mulai dari PDKT yang berhasil sampai urusan bisnis yang diselesaikan di atas piring plastik.
Kenapa Kita Selalu Kembali?
Pada akhirnya, kita kembali ke Gultik bukan karena kita tidak mampu membeli makanan yang lebih mahal atau porsinya yang bikin kenyang seharian. Kita kembali karena Gultik menawarkan sesuatu yang jarang ditemukan di Jakarta: kesederhanaan yang autentik.
![]() |
| Gambar dibuat menggunakan AI. |
Porsi yang sedikit itu adalah undangan untuk terus mencicipi, suasana trotoar adalah undangan untuk tetap rendah hati, dan rasa yang konsisten adalah alasan untuk selalu merindu. Jadi, kalau nanti malam lo merasa penat dengan segala urusan hidup, coba arahkan kendaraan lo ke Blok M. Pesan dua piring langsung, nikmati setiap suapannya, dan lo akan paham kenapa tempat ini tidak pernah sepi.
Jadi, kira-kira nanti malam lo mau nambah berapa piring? Atau lo punya spot gultik rahasia lain yang rasanya lebih "kick"? Coba bagikan pengalaman lo dan mari kita terus lestarikan budaya nongkrong yang sederhana ini.


Comments
Post a Comment