Skip to main content

Alasan Kenapa Anak Jaksel Lebih Produktif Kerja di Coffee Shop

Lo pasti sering melihat pemandangan ini: anak muda dengan laptop, segelas latte yang sudah tinggal es batu, dan tatapan serius ke layar selama berjam-jam di sudut coffee shop daerah Jakarta Selatan. Banyak orang luar yang mungkin berpikir kalau ini cuma sekadar gaya hidup, pamer estetika, atau bahkan buang-buang uang. Tapi jujur saja, bagi gue dan mungkin banyak orang lainnya, ada alasan yang jauh lebih dalam dari sekadar mengikuti tren.


Seorang pria menggunakan headphone sedang fokus bekerja dengan laptop di meja kayu sebuah coffee shop yang estetik di Jakarta.
Gambar dibuat menggunakan AI.

Bagi gue, coffee shop bukan cuma tempat buat beli kafein. Ini adalah tempat pelarian dari rasa jenuh yang sering kali muncul saat kita terkurung di empat dinding kamar. Ada sebuah rahasia yang mungkin belum banyak orang sadari, yaitu alasan kenapa suara bising di kafe justru bisa bikin kita jauh lebih fokus daripada kesunyian total di rumah.


Masalah Besar dengan Kesunyian di Rumah

Banyak orang mengira kalau mau fokus itu harus berada di tempat yang sepi banget seperti perpustakaan. Tapi buat gue, kesunyian total itu justru berbahaya. Saat suasana terlalu sepi, otak gue malah punya ruang ekstra buat memikirkan hal-hal yang nggak perlu. Gue mulai overthinking tentang cicilan, mulai mikirin omongan orang di masa lalu, atau ujung-ujungnya malah tergoda buat rebahan karena kasur cuma sejauh jangkauan tangan.

Di rumah, gangguan itu sifatnya personal. Ada godaan buat buka kulkas setiap sepuluh menit, ada keinginan buat menyalakan Netflix, atau tiba-tiba merasa perlu membersihkan rak buku padahal kerjaan kantor lagi menumpuk. Kesunyian di rumah justru bikin distraksi kecil terasa jauh lebih besar. Suara tetangga yang lewat atau bunyi tukang paket di depan rumah malah bikin gue kaget dan buyar konsentrasinya.


Kekuatan White Noise dan Ambience Kafe

Nah, di sinilah keajaiban coffee shop dimulai. Ada alasan ilmiah kenapa suara mesin espresso yang lagi beradu, suara orang ngobrol sayup-sayup di meja sebelah, dan denting sendok itu disebut sebagai "white noise". Suara-suara ini menciptakan latar belakang yang konsisten. Otak kita justru lebih mudah fokus ketika ada kebisingan yang teratur dan tidak terlalu dominan.

Gue merasa ambience seperti ini justru mengunci fokus gue. Karena suaranya merata, gue jadi nggak gampang terdistraksi oleh satu suara spesifik. Suasana bising yang tipis ini memberikan stimulasi yang pas buat otak supaya tetap terjaga tanpa merasa terganggu. Jadi, saat gue bilang gue ke sini bukan buat kopinya, gue beneran jujur. Gue ke sini buat beli suasananya.


Tekanan Positif dari Orang Sekitar

Salah satu alasan terkuat kenapa gue betah nongkrong berjam-jam buat kerja adalah adanya tekanan sosial yang positif. Di coffee shop, terutama di daerah Jaksel yang penuh dengan pekerja kreatif atau freelance, lo akan melihat banyak orang yang melakukan hal yang sama. Lo lihat orang di sebelah kiri lagi meeting lewat Zoom, orang di kanan lagi serius coding, dan di depan lo ada yang lagi bikin draf presentasi.

Secara psikologis, ini menciptakan efek yang disebut dengan "body doubling". Melihat orang lain lagi produktif bikin gue merasa malu kalau cuma scroll TikTok atau melamun nggak jelas. Ada semacam rasa nggak enak kalau gue sudah beli kopi tapi cuma bengong saja di depan laptop. Tekanan sosial yang halus ini justru memicu adrenalin gue untuk segera menyelesaikan task yang ada. Kita jadi merasa berada dalam satu frekuensi yang sama dengan orang-orang produktif di sekitar kita.


Pergeseran Mindset saat Berpindah Tempat

Gue selalu percaya kalau lingkungan itu sangat memengaruhi pola pikir. Saat gue di rumah, otak gue sudah terprogram untuk mode istirahat dan santai. Tapi begitu lo mandi, pakai baju yang rapi, dan menempuh macetnya Jakarta menuju kafe favorit, otak gue secara otomatis melakukan "switching" ke mode kerja.

Perjalanan menuju coffee shop itu sendiri adalah ritual buat gue. Begitu gue duduk dan membuka laptop di atas meja kayu kafe, gue seolah-olah memberikan sinyal ke diri sendiri bahwa waktu main sudah habis. Sekarang waktunya fokus. Pergantian suasana ini sangat penting untuk menjaga kesehatan mental, terutama buat lo yang kerjanya full remote atau freelance. Tanpa adanya pemisahan tempat antara rumah dan kerja, hidup lo bakal terasa seperti satu hari yang panjang dan melelahkan tanpa ada titik jeda yang jelas.


Kalkulasi Ekonomi yang Masuk Akal

Banyak yang mengkritik, "Kenapa harus keluar 50 ribu buat kopi kalau bisa bikin di rumah?" Kalau kita hitung secara logika, 50 ribu itu sebenarnya biaya yang sangat murah untuk menyewa "kantor" selama lima sampai enam jam. Di coffee shop, lo sudah dapat akses AC yang dingin, wifi yang biasanya lebih kencang dari internet di kosan, dan yang paling penting adalah suasana yang mendukung produktivitas.

Kalau lo bandingkan dengan harga sewa coworking space harian yang bisa mencapai ratusan ribu, harga segelas latte jadi terasa sangat masuk akal. Belum lagi penghematan listrik di rumah karena lo nggak perlu menyalakan AC seharian penuh. Jadi, nongkrong lama di coffee shop itu sebenarnya adalah keputusan finansial yang cukup cerdik bagi mereka yang tahu cara memanfaatkan waktunya dengan maksimal.


Interior coffee shop yang dipenuhi orang sedang nugas dan bekerja remote dengan latar belakang dinding bata dan tanaman hijau.
Gambar dibuat menggunakan AI.

Pada akhirnya, fenomena anak Jaksel yang hobi nongkrong lama di coffee shop itu bukan cuma soal pamer atau ikut-ikutan tren semata. Ini adalah cara kita beradaptasi dengan tuntutan pekerjaan yang semakin dinamis di tengah kota yang penuh tekanan. Kita mencari ruang di mana kita bisa merasa hidup, terhubung dengan orang lain secara tidak langsung, namun tetap bisa menyelesaikan tanggung jawab kita.

Jadi, kalau nanti lo melihat orang yang duduk sendirian di kafe dengan laptopnya selama berjam-jam, jangan langsung menghakimi. Bisa jadi, dia sedang berjuang menyelesaikan mimpinya di tengah bisingnya mesin kopi dan obrolan orang lain. Karena bagi sebagian orang, keramaian di coffee shop adalah satu-satunya cara untuk menemukan ketenangan dalam bekerja.

Comments

Popular posts from this blog

Fenomena Antrean Pop Mart dan Obsesi Baru Anak Jaksel

Kalau lo sempat mampir ke mall besar di daerah Jakarta Selatan akhir-akhir ini, pasti lo pernah merasa bingung melihat antrean yang mengular sampai keluar pintu store. Pemandangan ini sering banget terlihat di tempat-tempat seperti Gandaria City atau Senayan City . Orang-orang yang mengantre bukan lagi menunggu rilis sepatu basket terbatas atau koleksi baju desainer luar negeri. Mereka semua sedang menunggu giliran untuk masuk ke store Pop Mart . Fenomena ini bikin banyak orang luar atau generasi yang lebih tua bingung: kenapa satu kotak mainan plastik kecil bisa memicu kegilaan massal seperti ini. Gambar dibuat menggunakan AI. Gue perhatikan bahwa fenomena ini bukan sekadar soal membeli barang, tapi sudah menjadi bagian dari identitas sosial. Bagi anak Jaksel , Pop Mart adalah sebuah pengalaman yang dimulai bahkan sebelum lo menyentuh produknya. Semuanya bermula dari rasa penasaran yang bikin ketagihan. 1. Fenomena Antrean Panjang di Mall Jakarta Selatan Kerumunan orang yang rela be...

Alasan di Balik Obsesi Anak Jaksel dengan Segelas Matcha

Kalau lo sering main ke daerah Senopati , Blok M , atau mampir ke gedung kantoran di sekitar SCBD , lo pasti menyadari satu hal yang mencolok. Di setiap sudut cafe, pemandangannya hampir selalu sama. Ada satu gelas berisi cairan hijau pekat dengan es batu yang perlahan mencair, diletakkan dengan sangat presisi di sebelah laptop atau kacamata hitam. Fenomena ini bukan lagi hal baru, tapi pertanyaannya tetap sama: kenapa anak Jaksel suka banget sama matcha , padahal harganya bisa mencapai 60 ribu atau lebih cuma untuk satu gelas? Gambar dibuat menggunakan AI. Bagi orang luar, mungkin ini terlihat aneh. Mereka sering meledek kalau matcha itu rasanya mirip rumput atau tanah basah. Tapi buat kita yang sudah terbiasa dengan hiruk pikuk Jakarta Selatan , matcha bukan sekadar minuman penghilang haus. Ada narasi besar yang dibangun di balik setiap tegukannya. Estetika Visual yang Tak Terbantahkan Alasan pertama yang paling jelas adalah soal visual. Kita hidup di era di mana makanan atau minuma...

Kenapa Blok M Resmi Menjadi Pusat Peradaban Anak Jaksel Saat Ini

Kalau lo perhatikan linimasa media sosial belakangan ini, ada satu fenomena yang sulit buat diabaikan. Hampir semua konten estetik, rekomendasi tempat makan, sampai video pendek tentang gaya hidup anak muda Jakarta selalu bermuara di satu tempat yang sama: Blok M . Kawasan yang dulu mungkin cuma dikenal sebagai terminal bus tua yang berisik dan penuh polusi, sekarang sudah berubah total menjadi pusat peradaban baru bagi anak muda Jakarta Selatan. Gue sering menyebutnya sebagai Negara Blok M, karena tempat ini seolah punya aturan main, budaya, dan energinya sendiri yang tidak bisa lo temukan di belahan Jakarta lainnya. Gambar dibuat menggunakan AI. Evolusi dari Terminal Menjadi Ikon Budaya Dulu, Blok M adalah titik transit. Orang datang ke sini cuma buat pindah bus atau belanja murah di pasar. Tapi coba lo lihat sekarang. Blok M sudah berevolusi menjadi sebuah ekosistem yang sangat lengkap. Fenomena ini sebenarnya menarik buat dibahas. Kenapa tempat yang dulunya sempat meredup karena k...