Kalau lo sering jalan-jalan ke mal di Jakarta Selatan, pasti ada satu pemandangan yang nggak pernah absen dari pandangan mata: antrean panjang di depan gerai ramen. Mau itu di Gandaria City, Pondok Indah Mall, atau Senayan City, pemandangannya selalu sama. Orang-orang rela berdiri berjam-jam, memegang nomor antrean, cuma buat semangkuk mie dengan kuah panas. Gue sering banget mikir, apa sih yang bikin kita semua begitu terobsesi? Padahal kalau dipikir-pikir, Jakarta itu panasnya minta ampun, tapi kenapa pilihan makanan kita justru sesuatu yang bikin makin gerah? Ternyata, jawabannya lebih dalam dari sekadar rasa lapar.
![]() |
| Gambar dibuat menggunakan AI. |
Lo bukan anak Jaksel kalau belum punya daftar tiga ramen favorit di kantong lo. Ini bukan cuma soal pamer, tapi sudah jadi semacam identitas. Kalau lo lagi nongkrong dan tiba-tiba topik bahasannya soal kuliner, minimal lo harus tahu mana ramen yang kuahnya paling kental atau mana yang punya telur setengah matang paling juara. Kalau lo nggak punya jawaban, rasanya ada yang kurang dari status lo sebagai warga yang sering bolak-balik di area Jakarta Selatan.
Ritual di Tengah Hiruk Pikuk Mal
Alasan pertama kenapa ramen begitu dicintai itu soal kenyamanan atau yang sering kita sebut sebagai comfort food. Ada sesuatu yang sangat menenangkan pas kita masuk ke gerai ramen setelah seharian capek muter-muter mal atau stres menghadapi pekerjaan kantor di area SCBD. Suasana interior yang biasanya kayu-kayu hangat, suara pelayan yang menyapa dengan semangat, sampai aroma kaldu yang memenuhi ruangan itu memberikan sensasi rileks yang instan.
Gue ngerasa momen saat kita menghirup aroma kaldu ayam atau sapi yang sudah direbus berjam-jam itu adalah bentuk healing kecil-kecilan. Di tengah hiruk pikuk Jakarta yang nggak pernah diam, semangkuk ramen adalah pelarian. Pas lo mulai menyeruput kuahnya yang kental dan gurih, semua masalah kerjaan atau macetnya jalanan mendadak hilang sebentar. Ramen itu paket lengkap: karbohidratnya bikin kenyang, protein dari dagingnya bikin puas, dan kuahnya memberikan kehangatan yang jujur kita butuhkan di balik layar laptop.
Estetika dan Validasi Sosial
Kita juga nggak bisa bohong kalau visual itu penting banget buat anak Jaksel. Ramen itu makanan yang sangat fotogenik. Penataan mienya, warna cokelat keemasan dari kuahnya, hijaunya irisan daun bawang, sampai kuningnya telur yang masih lumer itu benar-benar mengundang buat difoto. Ramen adalah konten yang sempurna buat masuk ke Instagram Story atau TikTok.
Lo pasti pernah, kan, baru saja mangkuk ramennya sampai di meja, hal pertama yang lo lakukan bukan ambil sumpit tapi ambil HP. Gue pun sering begitu. Ada rasa puas tersendiri saat kita membagikan momen makan ramen itu ke media sosial. Ini adalah cara kita memberi tahu dunia kalau kita lagi butuh asupan kolagen, atau sekadar memberi tahu kalau kita punya selera yang bagus dalam memilih tempat makan. Konten ramen selalu dapat interaksi yang bagus karena semua orang punya opini soal makanan ini.
Bahasa Pemersatu di Meja Makan
Lebih dari itu, makan ramen sudah jadi bahasa pemersatu buat kita semua. Coba lo perhatikan kalau lagi makan bareng teman-teman di mal. Pasti ada saja debat seru soal mana yang lebih enak: tipe mie yang lurus atau yang keriting. Atau obrolan serius soal tingkat kematangan telur yang paling sempurna itu seperti apa. Obrolan-obrolan kecil seperti inilah yang bikin ikatan pertemanan makin kuat.
Ramen itu fleksibel. Lo mau makan sendiri sambil baca buku atau main HP, oke saja. Lo mau makan ramai-ramai bareng teman sekantor setelah jam pulang, juga asyik banget. Bahkan buat kencan pertama pun, ramen sering jadi pilihan yang aman tapi tetap berkelas. Ini bukan cuma soal makanan yang masuk ke perut, tapi soal gimana cara kita menikmati waktu di tengah kota yang serba cepat ini.
Jadi, kalau ditanya kenapa anak Jaksel doyan banget makan ramen, jawabannya adalah karena ramen menawarkan pengalaman yang lengkap. Ini adalah perpaduan antara rasa yang autentik, suasana yang nyaman, dan nilai sosial yang tinggi. Ramen bukan cuma mie instan versi mahal, tapi sebuah simbol gaya hidup yang menghargai kualitas dan momen santai di tengah kesibukan.
![]() |
| Gambar dibuat menggunakan AI. |
Buat lo yang masih punya daftar ramen favorit, jangan ragu buat terus bereksplorasi. Setiap gerai punya rahasia kaldunya masing-masing, dan mencari mana yang paling cocok dengan lidah lo adalah sebuah perjalanan kuliner yang seru. Jakarta Selatan memang punya banyak pilihan, tapi ramen akan selalu punya tempat spesial di hati dan perut kita semua.


Comments
Post a Comment